1. Perbedaan antara “Liberal Political Economy” dengan “Critical Political Economy” dalam pendekatan ekonomi politik media antara lain adalah :
Menurut Peter Golding dan Graham Murdock (dalam Curran dan Gurevitch, 1991:15 – 32) secara macro menunjukkan bahwa perspektif ekonomi politik komunikasi massa bisa dibedakan menjadi dua macam paradigma yaitu perspektif ekonomi politik dalam paradigma liberal dan perspektif ekonomi politik dalam paradigma kritis. Perspektif ekonomi politik liberal berpusat pada isu proses pertukaran pasar di mana individu sebagai konsumen mempunyai kebebasan untuk memilih komoditas-komoditas yang sedang berkompetisi berdasarkan manfaat dan kepuasan yang ditawarkannya. Semakin besar kekuatan pasar memainkan perannya, semakin besar kebebasan konsumen untuk menentukan pilihannya. Contoh dari paradigma ini adalah paradigma pendidikan Liberal. Kaum Liberal, mengakui bahwa memang ada masalah di masyarakat. Namun bagi mereka pendidikan sama sekali steril dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Tugas pendidikan cuma menyiapkan murid untuk masuk dalam sistem yang ada. Sistem diibaratkan sebuah tubuh manusia yang senantiasa berjalan harmonis dan penuh keteraturan (functionalism structural). Kalaupun terjadi distorsi maka yang perlu diperbaiki adalah individu yang menjadi bagian dari sistem dan bukan sistem.
Pendidikan dalam perspektif liberal menjadi sarana untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar stabil dan berfungsi secara baik dimasyarakat. Oleh karena itu masalah perbaikan dalam dunia pendidikan bagi mereka sebatas usaha reformasi 'kosmetik' seperti perlunya: membangun gedung baru, memoderenkan sekolah; komputerisasi; menyehatkan rasio murid-guru, metode pengajaran yang effisien seperti dynamics group, learning by doing, experimental learning dan sebagainya. Hal-hal tersebut terisolasi dengan struktur kelas dan gender dalam masyarakat. Akar dari pendidikan semacam ini, dapat ditelusuri dari pijakan filosofisnya yakni, paham liberalisme, suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta proses perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Sehingga pendididkan liberal menghasilkan kesadaran naïf.
Sedangkan dalam perspektif ekonomi politik kritis, perspektif ekonomi politik ini mengikuti Marx untuk memberikan perhatian pada pengorganisasin properti dan produksi pada industri budaya ataupun industri lainnya, bukannya pada proses pertukaran sebagaimana dilakukan liberalisme. Perspektif ini tidak mengabaikan pilihan-pilihan yang dibuat oleh produsen maupun konsumen industri budaya, akan tetapi apa yang dilakukan oleh produsen dan konsumen itu dilihat dalam struktur yang lebih luas lagi. Golding dan Murdock berpendapat bahwa perspektif ekonomi politik kritis berbeda dengan arus utama dalam ilmu ekonomi dalam hal holisisme, keseimbangan antara usaha kapitalis dengan intervensi publik; dan keterkaitan dengan persoalan-persoalan moralitas seperti masalah keadilan, kesamaan, dan kebaikan publik (public goods).
Analisa ekonomi politik kritis memperhatikan perluasan “dominasi” perusahaan media, baik melalui peningkatan kuantitas dan kualitas produksi budaya yang langsung dilindungi oleh pemilik modal. Tentu saja, ekstensifikasi dominasi media dikontrol melalui dominasi produksi isi media yang sejalan dengan preferensi pemilik modal. Proses komodifikasi media massa memperlihatkan dominasi peran kekuatan pasar (dalam penelitian ini terlihat faktor militer yang menentukan makna dan isi pasar). Proses komodifikasi justru menunjukkan menyempitnya ruang kebebasan bagi para konsumen media untuk memilih dan menyaring informasi.
Ekonomi politik kritis adalah varian studi ekonomi politik yang mencoba bersikap kritis terhadap proses-proses liberal dengan mengedapankan aspek-aspek moral dan etika sosial. Untuk bisa melihat ekonomi politik dalam media, Golding Murdok melakukan dengan pendekatan pada tiga karakter sentral. Pertama, pendekatan ekonomi bersifat holistik. Holistik disini lebih menekankan pada hubungan antara dinamika sosial, politik dan budaya dalam masyakat serta menghindari kecendrungan untuk mengabstraksi relasitas sosial kedalam toeri ekonomi atau teori politik. Kedua, pendekatan kritis ekonomi politik bersifat historis. Bukan hanya berkaitan dengan fokus perhatian terhadap proses dan dialektik sejarah melainkan secara memadai bagaimana perubahan dan dialektika yang terjadi berkaitan dengan posisi dan peranan media komunikasi dalam sistem kapitalis global. Ketiga, pendekatan kritis eknomi politik bersifat praksis. Pendekatan praksis memadang pengetahuan dalah produk dari interaksi dan dialektika antara teori dan praktik secara terus menurus. Perspektif ekonomi politik kritis juga menganalisa secara penuh pada campur tangan publik sebagai proses legitimasi melalui ketidaksepakatan publik atas bentuk-bentuk yang harus diambil karena adanya usaha kaum kapitalis mempersempit ruang diskursus publik dan representasi. Dalam konteks ini dapat juga disebut adanya distorsi dan ketidakseimbangan antara masyarakat, pasar dan sistem yang ada. Dan contoh yang saya ambil dari paradigma ini adalah paradigma pendidikan kritis. Pendidikan bagi paradigma kritis merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi kaum konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal ditujukan untuk perubahan moderat dan acapkali juga pro status quo, maka bagi penganut paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam tatanan politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Dalam perspektif ini, pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala berpikir baik pendidik maupun peserta didik, menciptakan ruang bagi peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis diri dan struktur dunianya dalam rangka transformasi sosial. Perspektif ini tentu mempunyai beberapa syarat. Baik guru maupun peserta didik mesti berada dalam posisi yang egaliter dan tidak saling mensubordinasi. Masing-masing pihak, mesti berangkat dari pemahaman bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Sehingga yang perlu dilakukan adalah dialog, saling menawarkan apa yang mereka mengerti dan bukan menghafal, menumpuk pengetahuan namun terasing dari realitas sosial (banking system). Sehingga pendidikan kritis ini menghasilkan kesadaran kritis bagi manusianya.
2. A) Perbedaan tiga varian utama dalam studi ekonomi politik media antara lain
adalah : ( Lihat Golding and Murdock, 1991; Hidayat, 2001; Garnham, 1995)
Instrumentalis
• Pandangan instrumentalis melihat bahwa media adalah alat (instrumen) dari kekuatan politik.
• Dan pandangan ini melihat adanya konspirasi antara pekerja media, pemilik modal dan penguasa yang menggunakan media sebagai instrumen politik media.
Strukturalis
• Pandangan Strukturalis melihat bahwa pemberitaan media dan kecenderungannya lebih diakibatkan oleh struktur media itu sendiri, yang berupa persaingan antar media (yang diwujudkan dalam rating atau tiras) sedangkan struktur produksinya dalam organisasi media (yang antara lain menekankan standar nilai berita tertentu) dan sebagainya.
• Pada pandangan ini juga melihat bahwa ideologi pemberitaan media tidak hanya melekat pada pemilik atau pekerja media, tetapi juga melekat pada struktur industri media itu sendiri. Misalnya persaingan antar media yang akan menyebabkan media cenderung untuk memberitakan pada sisi tertentu karena berita tersebut lebih disukai oleh khalayak dan pengiklan.
Kulturalis/ Konstruktivis
• Pandangan kulturalis melihat bahwa adanya hubungan saling kait mengait (interplay) antara struktur dan agensi.
• Dan pandangan ini menolak pandangan instrumentalis dan strukturalis yang melihat agen/pekerja media sebagai pihak yang pasif, melainkan melihat bahwa pekerja media mempunyai kecenderungan dan tendensi tersendiri yang mempengaruhi pemberitaan media.
• Serta melihat bahwa pemberitaan media adalah hasil negoisasi dan interplay antara struktur dengan agen pekerja media.
B) Dari uraian mengenai perbedaan antara pandangan Instrumentalis, Strukturalis dan Kulturalis/ Konstruktivis dapat dilengkapi dengan contoh kasus pada liputan media mengenai terorisme di Aceh dan tewasnya Dulmatin yang antara lain adalah :
Media di Indonesia memberitakan atau meliput peristiwa mengenai terorisme di Aceh dan tewasnya Dulmatin merupakan sebuah pemberitaan yang memiliki nilai berita yang sangat tinggi, yang sarat akan muatan-muatan yang berbau politik, keamanan atau keselamatan, kekuasaan atau aspek bisnis. Kecenderungan pemberitaan media ini pada kasus liputan mengenai terorisme di Aceh dan tewasnya Dulmatin, dapat dijelaskan dalam tiga varian utama pada studi ekonomi politik media, yang bila dilihat dari pandangan kaum instrumentalis melihat kecenderungan seperti ini adalah hasil dari kepentingan teroris yang mempunyai keterkaitan dengan keinginan dari pemilik modal dan pekerja media, yaitu sebagai alat (instrumen) dari kehadiran kegiatan terorisme yang memerlukan publikasi melalui media. Keberhasilan sebuah kegiatan terorisme secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh pemberitaan tersebut yang dilakukan oleh media. Hal ini dimungkinkan karena tujuan utama dari kegiatan terorisme adalah usaha untuk menyampaikan pesan kepada pemegang kekuasaan. Begitu juga dengan pemilik modal dan pekerja media sebagai konspirasi terhadap instrumen politik media.
Sementara kaum strukturalis melihat bahwa kecenderungan media sebagai akibat dari struktur industri media itu sendiri yaitu pada aspek bisnisxa. Dalam pemberitaan mengenai terorisme, media banyak menampilkan sisi human interest dari para teroris, misalnya mengenai pengakuan orang tua dan keluarga dekat mengenai kehidupan teroris, perasaan anggota dan keluarga yang kehilangan, dan sebagainya. Dalam hal ini, media di Indonesia (terutama televisi) saling bersaing menyajikan berita. Khalayak juga menyukai berita mengenai terorisme di Aceh dan tewasnya Dulmatin terkait dengan keamanan dan keselamatan bagi khalayak, sehingga membuat media terus-menerus memberitakan kasus terorisme. Persaingan ini juga terbawa pada proses pembuatan berita. Media bersaing menyajikan pemberitaan kasus terorisme secara ”eksklusif” diantaranya dengan melakukan liputan langsung penyergapan teroris yang dilakukan oleh Densus 88 baik yang didaerah Aceh terhadap kelompok teroris maupun yang di Jawa Timur terhadap Doktor Azhari dan Nurdin M Top. Pola pemberitaan seperti ini pada akhirnya membuat liputan mengenai terorisme menjadi sensasional. Sedangkan pada kaum kulturalis/konstruktivis melihat adanya interplay antara struktur dan agen. Bahwa yang tersaji dimedia adalah hasil negoisasi diantara struktur politik ekonomi dengan keinginan dan kecenderungan pekerja media. Pekerja media mempunyai kecenderungan, keberpihakan sendiri yang ikut mewarnai pemberitaan media.
C) Dan menurut saya dalam konteks Indonesia, varian yang lebih sesuai untuk Indonesia adalah varian strukturalis, kenapa demikian? Karena menurut saya, bahwa ideologi pemberitaan media di Indonesia tidak hanya melekat pada pemilik modal atau pekerja media saja tetapi juga melekat pada struktur industri media itu sendiri atau aspek bisnis, yaitu pemberitaan yang cenderung memberitakan pada sisi tertentu baik itu kepentingan pemilik modal dan pekerja media untuk menarik pengiklan. Dan kecenderungan tersebut lebih diakibatkan oleh struktur media itu sendiri yang berupa persaingan antar media (yang diwujudkan dengan rating) seperti pada liputan eksklusif RCTI baru-baru ini mengenai liputan tentang Barack Obama di Gedung Putih, Washinton DC Amerika Serikat. Selain untuk menaikan rating karena kedatangan Obama ke Indonesia, hal tersebut juga ada kaitannya dengan kepentingan pemilik modal dan pekerja media tentang nominasi pemilihan Panasonic Gobel Award terhadap salah satu pekerja medianya yaitu Putra Nababan, yang akhirnya menjadi pemenang pada kategori presenter/pembaca berita terfavorit yang dikarenakan liputan eksklusifnya mengenai Barack Obama yang dijelaskan dalam acara tersebut.
Salam Sejahtera, Sebelumnya selamat datang di Blog saya. Blog ini saya buat untuk mengarsipkan tugas-tugas saya selama menimba ilmu di Universitas yang telah saya pilih serta tulisan-tulisan tentang pendapat-pendapat saya seputar apa yang saya pikirkan (My Mind). Tidak banyak yang dapat saya informasikan diblog ini, tetapi setidaknya informasi yang saya berikan dapat berguna dan bermanfaat untuk Anda semua. Terimakasih
Sabtu, 22 Mei 2010
STRUCTURATION
STRUCTURATION
Dian Febriani
Teori tentang tindakan dalam ilmu sosial menjadi sumber perdebatan besar antara kaum strukturalisme (yang melihat tindakan sebagai cermin dari struktur dan melihat determinasi struktur terhadap kehidupan agen), dengan kaum eksistensialis (yang melihat manusia memiliki kapasitas transformatif dan kehendak bebas yang tidak harus sejalan dengan sistem. Dalam perkembangan teori sosial modern muncul suatu pandangan revisionis yang melihat struktur dan agensi sebagai kondisi yang saling mengandaikan satu sama lain.
Kerangka Teori dan Konsep ”Struktur dan Agen”
Struktur yang dimaksud Giddens harus dipahami dalam acuannya terhadap properti struktural yang memasukkan waktu dan tempat dalam sistem sosial. Dalam struktur terkandung keberadaan dari:
1. Pengetahuan tentang bagaimana segala sesuatu harus dilakukan.
2. Tindakan sosial yang dijalankan melalui mobilisasi dari pengetahuan tersebut.
3. Kemampuan produksi dari tindakan.
Struktur ini memiliki dua sisi. Pertama, tidak ada hubungan tunggal antara aktivitas dan sebuah peraturan sehingga aktivitas atau tindakan dijalankan dalam konteks seperangkat aturan yang saling tumpang tindih dan berhubungan. Kedua, aturan tidak bisa dijelaskan atau dianalisis berdasarkan isi aturan semata dan dilepaskan dari lingkungan relevan di mana aturan tersebut berada. Konsep agen menurut Giddens adalah keseluruhan subyek yang diletakkan dalam kerangka waktu dan tempat organisme yang hidup. Agen dengan reflektif mengkarakteristikkan apa yang mendasari tindakan. Agen memiliki aspek-aspek inheren tentang apa yang mereka lakukan dan memiliki kapasitas untuk memahami apa yang mereka lakukan. Seorang agen harus memiliki kapasitas yang transformatif, yakni kemampuan untuk mengintervensi apa yang sudah ada dan mengubahnya. Seorang agen yang kompeten memiliki kemampuan untuk merasionalisasi tindakannya.
Teori Berbasis Struktur dan Agen:
Untuk menjelaskan peranan struktur dan agen dalam tindakan manusia, yaitu:
1. Keberadaan dunia sosial ditentukan oleh struktur masyarakat. Motivasi mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu bisa dilihat hanya dengan melihat struktur yang ada.
2. Agen memiliki kapasitas untuk mengkonstruksi dan merekonstruksi dunia mereka.
3. Struktur dan agensi adalah kekuatan yang saling melengkapi satu sama lain, struktur mempengaruhi tindakan individu dan manusia mampu mengubah struktur sosial di mana di sekitarnya.
Anthony Giddens mengusulkan bahwa kita menganggap struktur sebagai dualitas termasuk aturan yang membatasi dan sumber daya alam yang memungkinkan. Salah satu karakteristik yang penting dari teori strukturasi yaitu memberikan perubahan sosial, sebagai proses yang menggambarkan bagaimana struktur diproduksi dan diproduksi lagi oleh agensi manusia yang melakukan tindakan tersebut melalui media dari struktur ini. Konsep strukturasi merespon untuk mengkritik ke arah fungsional, institusional, dan strukturalis yang timbul dari kecenderungan mereka untuk struktur sekarang sebagai bentuk yang menyeluruh dari wujud yang ditentukkan.
Hal ini menunjukkan bagaimana teori strukturasi dapat bergabung dengan proses komodifikasi dan spesialisasi untuk memajukan ekonomi politik komunikasi. Khususnya, strukturasi yang seimbang yang cenderung pada analisis ekonomi politik untuk bagian struktur. Secara khas bisnis dan institusi pemerintah, dengan membahas dan menggabungkan ide-ide dari agensi, hubungan sosial, proses sosial, dan tindakan sosial. Diwaktu yang sama, Garnham (1990), Menolak teori strukturasi sebagai pengertian yang sangat ektrim bahwa seseorang bisa menganalisis agensi pada ketidakhadiran dari struktur.
Agensi secara fundamental adalah konsep sosial yang menganggap individu-individu sebagai aktor sosial yang perilakunya dibentuk dari acuan hubungan sosial mereka dan posisi termasuk kelas, race, dan Gender. Akan tetapi, agensi strukturasi cenderung sebagai sosial daripada aktor individu. Hal itu signifikan dari proses sosial individu. Salah satu pusat ketegangan dalam proses strukturasi antara sosial dan kecenderungan individu. Strukturasi oleh sebab itu memasukkan poin untuk mempelajari konstitusi bersama dari struktur dan agensi dalam ekonomi politik. Hal itu adalah titik pangkal untuk memperluas konsep kekuasaan dan memberikan semangat untuk memahami bentuk hubungan sosial pada ekonomi politik.
Proses Strukturasi Hegemony
Proses Strukturasi membentuk konsep hegemony, yang didefinisikan sebagai Taken-For-Granted, pengetahuan umum, menaturalisasikan dari pemikiran tentang dunia, termasuk segala sesuatu dari kosmologi, sampai ilmu etika untuk tindakan sosial, yang kedua-duannya bersatu dan berkontes dalam kehidupan sehari-hari. Hegemony adalah jaringan hidup dari pemaknaan konstitusi secara bersama dan nilai-nilai, dari pengalaman mereka sebagai tindakan, yang muncul ditegaskan secara bersama.
Analisis kelas, gender, race dan hegemony dalam penelitian ekonomi politik juga berkembang pada media, yang mempelajari media sebagai makna yang menggambarkan Social Relation of communication practice, termasuk bagaimana mereka melayani untuk mengatur agensi individual produk mereka. Ketegangan dan pertentangan dalam proses strukturasi yang bermacam-macam, media menjadi teratur dalam mainstream menyeluruh, perlawanan, dan bentuk alternatif mereka.
Bentuk analisis kelas ini penting karena mereka mendemonstrasikan bahwa kelas menjelaskan ke kita sebuah Great Deal tentang produksi, distribusi dan konsumsi komunikasi dalam masyarakat. Akan tetapi, mereka memperlakukan kelas sosial secara besar dalam syarat-syarat Categorial. Hal utama yang menarik dalam menetapkan posisi membership dalam sebuah kategori dan menggambarkannya dalam pola hubungan perilaku. Sedangkan pendekatan Categorial mendefinisikan kelas dari apa yang terkandung pada kategori yang spesifik seperti kekayaan atau pendapatan.
Social movement secara khusus penting untuk ekonomi politik komunikasi karena mereka mempengaruhi pengembangan makna dan konten dari komunikasi. Ekonomi politik media massa berkontribusi untuk pembentukkan gerakan sosial, yang mengatur secara utama tentang produksi media dan kebijakkan. Media alternative adalah worldwide yang merubah bentuk media dominan, teknologi, gambar, dan pesan. Ini termasuk kampanye literasi padat karya, teater jalanan, koran alternatif, video, dan produksi film, kartun, pemprograman akses kabel publik, jaringan komputer alternatif, video bajakan, computer hacking, dan yang lain-lain.
Review=>Resume : - Camelia Pasandaran, Relasi Struktur dan Agensi dalam Produksi Berita.
- The Political Economy of Communication : Strukturation.
Dian Febriani
Teori tentang tindakan dalam ilmu sosial menjadi sumber perdebatan besar antara kaum strukturalisme (yang melihat tindakan sebagai cermin dari struktur dan melihat determinasi struktur terhadap kehidupan agen), dengan kaum eksistensialis (yang melihat manusia memiliki kapasitas transformatif dan kehendak bebas yang tidak harus sejalan dengan sistem. Dalam perkembangan teori sosial modern muncul suatu pandangan revisionis yang melihat struktur dan agensi sebagai kondisi yang saling mengandaikan satu sama lain.
Kerangka Teori dan Konsep ”Struktur dan Agen”
Struktur yang dimaksud Giddens harus dipahami dalam acuannya terhadap properti struktural yang memasukkan waktu dan tempat dalam sistem sosial. Dalam struktur terkandung keberadaan dari:
1. Pengetahuan tentang bagaimana segala sesuatu harus dilakukan.
2. Tindakan sosial yang dijalankan melalui mobilisasi dari pengetahuan tersebut.
3. Kemampuan produksi dari tindakan.
Struktur ini memiliki dua sisi. Pertama, tidak ada hubungan tunggal antara aktivitas dan sebuah peraturan sehingga aktivitas atau tindakan dijalankan dalam konteks seperangkat aturan yang saling tumpang tindih dan berhubungan. Kedua, aturan tidak bisa dijelaskan atau dianalisis berdasarkan isi aturan semata dan dilepaskan dari lingkungan relevan di mana aturan tersebut berada. Konsep agen menurut Giddens adalah keseluruhan subyek yang diletakkan dalam kerangka waktu dan tempat organisme yang hidup. Agen dengan reflektif mengkarakteristikkan apa yang mendasari tindakan. Agen memiliki aspek-aspek inheren tentang apa yang mereka lakukan dan memiliki kapasitas untuk memahami apa yang mereka lakukan. Seorang agen harus memiliki kapasitas yang transformatif, yakni kemampuan untuk mengintervensi apa yang sudah ada dan mengubahnya. Seorang agen yang kompeten memiliki kemampuan untuk merasionalisasi tindakannya.
Teori Berbasis Struktur dan Agen:
Untuk menjelaskan peranan struktur dan agen dalam tindakan manusia, yaitu:
1. Keberadaan dunia sosial ditentukan oleh struktur masyarakat. Motivasi mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu bisa dilihat hanya dengan melihat struktur yang ada.
2. Agen memiliki kapasitas untuk mengkonstruksi dan merekonstruksi dunia mereka.
3. Struktur dan agensi adalah kekuatan yang saling melengkapi satu sama lain, struktur mempengaruhi tindakan individu dan manusia mampu mengubah struktur sosial di mana di sekitarnya.
Anthony Giddens mengusulkan bahwa kita menganggap struktur sebagai dualitas termasuk aturan yang membatasi dan sumber daya alam yang memungkinkan. Salah satu karakteristik yang penting dari teori strukturasi yaitu memberikan perubahan sosial, sebagai proses yang menggambarkan bagaimana struktur diproduksi dan diproduksi lagi oleh agensi manusia yang melakukan tindakan tersebut melalui media dari struktur ini. Konsep strukturasi merespon untuk mengkritik ke arah fungsional, institusional, dan strukturalis yang timbul dari kecenderungan mereka untuk struktur sekarang sebagai bentuk yang menyeluruh dari wujud yang ditentukkan.
Hal ini menunjukkan bagaimana teori strukturasi dapat bergabung dengan proses komodifikasi dan spesialisasi untuk memajukan ekonomi politik komunikasi. Khususnya, strukturasi yang seimbang yang cenderung pada analisis ekonomi politik untuk bagian struktur. Secara khas bisnis dan institusi pemerintah, dengan membahas dan menggabungkan ide-ide dari agensi, hubungan sosial, proses sosial, dan tindakan sosial. Diwaktu yang sama, Garnham (1990), Menolak teori strukturasi sebagai pengertian yang sangat ektrim bahwa seseorang bisa menganalisis agensi pada ketidakhadiran dari struktur.
Agensi secara fundamental adalah konsep sosial yang menganggap individu-individu sebagai aktor sosial yang perilakunya dibentuk dari acuan hubungan sosial mereka dan posisi termasuk kelas, race, dan Gender. Akan tetapi, agensi strukturasi cenderung sebagai sosial daripada aktor individu. Hal itu signifikan dari proses sosial individu. Salah satu pusat ketegangan dalam proses strukturasi antara sosial dan kecenderungan individu. Strukturasi oleh sebab itu memasukkan poin untuk mempelajari konstitusi bersama dari struktur dan agensi dalam ekonomi politik. Hal itu adalah titik pangkal untuk memperluas konsep kekuasaan dan memberikan semangat untuk memahami bentuk hubungan sosial pada ekonomi politik.
Proses Strukturasi Hegemony
Proses Strukturasi membentuk konsep hegemony, yang didefinisikan sebagai Taken-For-Granted, pengetahuan umum, menaturalisasikan dari pemikiran tentang dunia, termasuk segala sesuatu dari kosmologi, sampai ilmu etika untuk tindakan sosial, yang kedua-duannya bersatu dan berkontes dalam kehidupan sehari-hari. Hegemony adalah jaringan hidup dari pemaknaan konstitusi secara bersama dan nilai-nilai, dari pengalaman mereka sebagai tindakan, yang muncul ditegaskan secara bersama.
Analisis kelas, gender, race dan hegemony dalam penelitian ekonomi politik juga berkembang pada media, yang mempelajari media sebagai makna yang menggambarkan Social Relation of communication practice, termasuk bagaimana mereka melayani untuk mengatur agensi individual produk mereka. Ketegangan dan pertentangan dalam proses strukturasi yang bermacam-macam, media menjadi teratur dalam mainstream menyeluruh, perlawanan, dan bentuk alternatif mereka.
Bentuk analisis kelas ini penting karena mereka mendemonstrasikan bahwa kelas menjelaskan ke kita sebuah Great Deal tentang produksi, distribusi dan konsumsi komunikasi dalam masyarakat. Akan tetapi, mereka memperlakukan kelas sosial secara besar dalam syarat-syarat Categorial. Hal utama yang menarik dalam menetapkan posisi membership dalam sebuah kategori dan menggambarkannya dalam pola hubungan perilaku. Sedangkan pendekatan Categorial mendefinisikan kelas dari apa yang terkandung pada kategori yang spesifik seperti kekayaan atau pendapatan.
Social movement secara khusus penting untuk ekonomi politik komunikasi karena mereka mempengaruhi pengembangan makna dan konten dari komunikasi. Ekonomi politik media massa berkontribusi untuk pembentukkan gerakan sosial, yang mengatur secara utama tentang produksi media dan kebijakkan. Media alternative adalah worldwide yang merubah bentuk media dominan, teknologi, gambar, dan pesan. Ini termasuk kampanye literasi padat karya, teater jalanan, koran alternatif, video, dan produksi film, kartun, pemprograman akses kabel publik, jaringan komputer alternatif, video bajakan, computer hacking, dan yang lain-lain.
Review=>Resume : - Camelia Pasandaran, Relasi Struktur dan Agensi dalam Produksi Berita.
- The Political Economy of Communication : Strukturation.
Commodification
Commodification
Dian Febriani
Istilah komodifikasi merupakan istilah baru yang mulai muncul dan dikenal oleh para ilmuwan sosial yang disebabkan dari segala perkembangan pesat yang terjadi didunia. Komoditas dan komodifikasi adalah dua hal yang memiliki hubungan objek dan proses. Serta menjadi salah satu indikator kapitalisme global yang kini tengah terjadi. Komodifikasi menurut Vincent Mosco digambarkan sebagai cara kapitalisme dengan membawa akumulasi tujuan kapitalnya. Atau dapat digambarkan sebagai sebuah perubahan nilai fungsi atau nilai guna menjadi sebuah nilai tukar. Dan sekarang ini telah banyak sekali bentuk komodifikasi yang muncul dalam perkembangan kehidupan manusia. Karena mulai banyak juga yang dijadikan komoditas oleh manusia.
Dalam ekonomi politik media, komodifikasi adalah salah satu bentuk penguasaan media selain strukturasi dan spasialisasi. Proses komodifikasi erat kaiannya dengan produks, sedangkan proses produksi erat dengan fungsi atau guna pekerjanya, pekerja telah menjadi komoditas dan telah dikomodifikasikan oleh pemilik modal. Yaitu dengan mengeskploitasi mereka dalam pekerjaannya. Hal ini hanya satu bagian saja dari proses produksi. Maka dari itu komodifikasi tak lain juga sebuah bentuk komersialisasi segala bentuk nilai dari buatan manusia.
Komodifikasi & Komunikasi
Kaitannya komodifikasi dan komunikasi, dapat digambarkan dari dua dimensi hubungan antara lain :
1. Proses komunikasi dan terknologi tersebut memiliki kontribusi terhadap proses umum komodifikasi secara keseluruhan.
2. Proses komodifikasi secara keseluruhan menekan proses komunikasi dan institusinya yang terjadi dalam masyarakat, jadi perbaikan dan bantahan dalam proses komodifikasi sosial mempengaruhi komunikasi sebagai praktik sosial.
Bentuk Komoditas dalam Komunikasi
Beberapa bentuk komoditas dalam komunikasi antara lain adalah :
1. Komodifikasi content Isi media komunikasi
Banyak contoh yang dapat kita ambil dan lihat dari media-media di Indonesia. Konten media yang dibuat sedemikian rupa agar benar-benar menjadi kesukaan publik meski hal itu bukanlah fakta dan kebutuhan publik. Pengesahan segala cara termasuk cara licik dilakukan demi mendapat perhatian audiens yang tinggi.
2. Komodifikasi audience
Audiens dijadikan komoditi para media untuk mendapatkan iklan dan pemasukan. Media biasanya menjual rating atau share kepada advertiser untuk dapat menggunakan air time mereka. Yaitu dengan membuat program yang dapat mencapai angka tertnggi daripada program di station lain.
3. Komodifikasi pekerja atau buruh
Pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi. Bukan hanya produksi sebenarnya, tapi juga distribusi. Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka secara optimal dengan cara mengkonstruksi pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkannya jika bekerja dalam sebuah institusi media massa, walaupun dengan upah yang tak seharusnya.
Dan yang terakhir adalah komodifikasi yang terjadi diantara hubungan bentuk-bentuk komodifikasi tersebut. Bagaimana sebuah iklan yang membeli air time atau ruang dalam sebuah media massa kemudian mereka mendapat peningkatan keuntungan dari iklan-iklan yang mereka pasang pada media massa. Perputaran uang-uang hasil dari berbagai transaksi yang berhubungan proses komunikasi antara media dan khalayaknya maka dianggap juga sebagai hasil proses komodifikasi. Dalam hal ini, rating atau share merupakan sebuah komoditi yang penting yang juga menghubungkan advertiser, pemilik perusahaan dan audiens yang juga sebagai konsumen dari produk-produk mereka. Maka rating menjadi sangat penting, bukan hanya untuk komoditas media tapi juga telah menjadi bagian dari tahapan-tahapan perkembangan komodifikasi komunikasi. Sedangkan hubungan yang kedua adalah bagaimana nilai-nilai yang telah dikomodifikasikan pada khalayak dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Kemudian perubahan-perubahan dari kepercayaan masyarakat tersebut terhadap sponsorship yang bersifat private atau swasta untuk tempat atau layanan publik. Lalu penggunaan taman-taman atau tempat hiburan umum yang lebih sepi dari pada tempat shopping dimall. Dikatakan juga bahwa komodifikasi dalam ekonomi politik bukan mengenai kekuatan tapi hegemoni.
Solusi dari proses komodifikasi dalam kehidupan sosial & publik.
Proses sosial dapat kita jalani dalam kehidupan pribadi dan juga publik. Menurut Mosco, proses sosial akan menjadi proses alternative atau praktik oppositional dalam menghadapi komodifikasi dan segala yang menjadi bentuknya. Dalam kehidupan sosial pribadi, akan mempunyai hubungan yang bersifat pribadi seperti dengan orang tua, keluarga, teman, sahabat atau mungkin kekasih. Hubungan yang baik, tentunya akan memberikan banyak energi dan hal yang positif untuk kita. Dari interaksi bersama kita akan mendapatkan identitas diri, nilai-nilai sosial dan hal lain dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menghadapi hujanan informasi. Sedangkan publik, kita akan memiliki hubungan yang lebih bersifat umum dan lebih luas.
Publik juga kita kenal sebagai hubungan dengan masyarakat, kepentingan masyarakat. Selama ini riset komunikasi mementingkan kepentingan yang berhubungan dengan masyarakat, sebagai proses resistensi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia media komunikasi termasuk komodifikasi. Ada satu hal lagi yang tidak dapat dipisahkan yakni pasar. Bukan hanya kepentingan pribadi, ataupun kepentingan publik yang menjadi perhatian tapi juga permintaan pasar. Ketiganya akan selalu bersentuhan atau mungkin berbenturan dalam setiap proses perubahan dan kemajuan dunia media komunikasi. Setiap hal akan dapat menjadi komoditas menurut pihak yang berkepentingan dan berkepemilikan baik modal maupun media.
Review=>Resume : Mosco, Vincent. The Political Economy of Communication : Commodification.
Dian Febriani
Istilah komodifikasi merupakan istilah baru yang mulai muncul dan dikenal oleh para ilmuwan sosial yang disebabkan dari segala perkembangan pesat yang terjadi didunia. Komoditas dan komodifikasi adalah dua hal yang memiliki hubungan objek dan proses. Serta menjadi salah satu indikator kapitalisme global yang kini tengah terjadi. Komodifikasi menurut Vincent Mosco digambarkan sebagai cara kapitalisme dengan membawa akumulasi tujuan kapitalnya. Atau dapat digambarkan sebagai sebuah perubahan nilai fungsi atau nilai guna menjadi sebuah nilai tukar. Dan sekarang ini telah banyak sekali bentuk komodifikasi yang muncul dalam perkembangan kehidupan manusia. Karena mulai banyak juga yang dijadikan komoditas oleh manusia.
Dalam ekonomi politik media, komodifikasi adalah salah satu bentuk penguasaan media selain strukturasi dan spasialisasi. Proses komodifikasi erat kaiannya dengan produks, sedangkan proses produksi erat dengan fungsi atau guna pekerjanya, pekerja telah menjadi komoditas dan telah dikomodifikasikan oleh pemilik modal. Yaitu dengan mengeskploitasi mereka dalam pekerjaannya. Hal ini hanya satu bagian saja dari proses produksi. Maka dari itu komodifikasi tak lain juga sebuah bentuk komersialisasi segala bentuk nilai dari buatan manusia.
Komodifikasi & Komunikasi
Kaitannya komodifikasi dan komunikasi, dapat digambarkan dari dua dimensi hubungan antara lain :
1. Proses komunikasi dan terknologi tersebut memiliki kontribusi terhadap proses umum komodifikasi secara keseluruhan.
2. Proses komodifikasi secara keseluruhan menekan proses komunikasi dan institusinya yang terjadi dalam masyarakat, jadi perbaikan dan bantahan dalam proses komodifikasi sosial mempengaruhi komunikasi sebagai praktik sosial.
Bentuk Komoditas dalam Komunikasi
Beberapa bentuk komoditas dalam komunikasi antara lain adalah :
1. Komodifikasi content Isi media komunikasi
Banyak contoh yang dapat kita ambil dan lihat dari media-media di Indonesia. Konten media yang dibuat sedemikian rupa agar benar-benar menjadi kesukaan publik meski hal itu bukanlah fakta dan kebutuhan publik. Pengesahan segala cara termasuk cara licik dilakukan demi mendapat perhatian audiens yang tinggi.
2. Komodifikasi audience
Audiens dijadikan komoditi para media untuk mendapatkan iklan dan pemasukan. Media biasanya menjual rating atau share kepada advertiser untuk dapat menggunakan air time mereka. Yaitu dengan membuat program yang dapat mencapai angka tertnggi daripada program di station lain.
3. Komodifikasi pekerja atau buruh
Pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi. Bukan hanya produksi sebenarnya, tapi juga distribusi. Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka secara optimal dengan cara mengkonstruksi pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkannya jika bekerja dalam sebuah institusi media massa, walaupun dengan upah yang tak seharusnya.
Dan yang terakhir adalah komodifikasi yang terjadi diantara hubungan bentuk-bentuk komodifikasi tersebut. Bagaimana sebuah iklan yang membeli air time atau ruang dalam sebuah media massa kemudian mereka mendapat peningkatan keuntungan dari iklan-iklan yang mereka pasang pada media massa. Perputaran uang-uang hasil dari berbagai transaksi yang berhubungan proses komunikasi antara media dan khalayaknya maka dianggap juga sebagai hasil proses komodifikasi. Dalam hal ini, rating atau share merupakan sebuah komoditi yang penting yang juga menghubungkan advertiser, pemilik perusahaan dan audiens yang juga sebagai konsumen dari produk-produk mereka. Maka rating menjadi sangat penting, bukan hanya untuk komoditas media tapi juga telah menjadi bagian dari tahapan-tahapan perkembangan komodifikasi komunikasi. Sedangkan hubungan yang kedua adalah bagaimana nilai-nilai yang telah dikomodifikasikan pada khalayak dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Kemudian perubahan-perubahan dari kepercayaan masyarakat tersebut terhadap sponsorship yang bersifat private atau swasta untuk tempat atau layanan publik. Lalu penggunaan taman-taman atau tempat hiburan umum yang lebih sepi dari pada tempat shopping dimall. Dikatakan juga bahwa komodifikasi dalam ekonomi politik bukan mengenai kekuatan tapi hegemoni.
Solusi dari proses komodifikasi dalam kehidupan sosial & publik.
Proses sosial dapat kita jalani dalam kehidupan pribadi dan juga publik. Menurut Mosco, proses sosial akan menjadi proses alternative atau praktik oppositional dalam menghadapi komodifikasi dan segala yang menjadi bentuknya. Dalam kehidupan sosial pribadi, akan mempunyai hubungan yang bersifat pribadi seperti dengan orang tua, keluarga, teman, sahabat atau mungkin kekasih. Hubungan yang baik, tentunya akan memberikan banyak energi dan hal yang positif untuk kita. Dari interaksi bersama kita akan mendapatkan identitas diri, nilai-nilai sosial dan hal lain dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menghadapi hujanan informasi. Sedangkan publik, kita akan memiliki hubungan yang lebih bersifat umum dan lebih luas.
Publik juga kita kenal sebagai hubungan dengan masyarakat, kepentingan masyarakat. Selama ini riset komunikasi mementingkan kepentingan yang berhubungan dengan masyarakat, sebagai proses resistensi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia media komunikasi termasuk komodifikasi. Ada satu hal lagi yang tidak dapat dipisahkan yakni pasar. Bukan hanya kepentingan pribadi, ataupun kepentingan publik yang menjadi perhatian tapi juga permintaan pasar. Ketiganya akan selalu bersentuhan atau mungkin berbenturan dalam setiap proses perubahan dan kemajuan dunia media komunikasi. Setiap hal akan dapat menjadi komoditas menurut pihak yang berkepentingan dan berkepemilikan baik modal maupun media.
Review=>Resume : Mosco, Vincent. The Political Economy of Communication : Commodification.
Budaya, Komunikasi, dan Ekonomi Politik
Peter Golding & Graham Murdock
Setiap orang dari orang-orang politik ke akademik setuju bahwa sistem komunikasi publik adalah bagian dari industri budaya. Popularitas dari point tag ini untuk menumbuhkan kesadaran bahwa organisasi ini sama dan berbeda dari industri yang lain. Disatu sisi mereka mempunyai jarak dengan produksi area yang lain dan secara meningkat mengintegrasikan kedalam struktur industri yang umum. Disisi lain hal itu sama dengan manufaktur mereka yang bagus seperti surat kabar, periklanan, televisi dan film. Hal itu berperan pada aturan yang sangat penting dalam mengorganisasikan gambar dan pidato melalui orang-orang yang membuat kesadaran terhadap dunia.
Kritik Ekonomi Politik tentang Komunikasi Strawmen dan Stereotypes
Perspektif kritikal mengasumsikan sebuah konsep realitas tentang fenomena yang dipelajari. Untuk alasan kritikal ini mencoba untuk mengetahui kendala nyata yang membentuk kehidupan dan kesempatan pada aktor-aktor dalam dunia nyata. Teori kritikal ini juga sangat materialis, dalam hal ini fokus pada interaksi orang-orangnya dengan lingkungan materil mereka.
Apa itu Kritikal Ekonomi Politik ?
Kritikal ekonomi politik berbeda dari mainstream ekonomi dalam respek 4 hal yang utama :
1. Holistik
2. Historikal
3. Fokus dengan keseimbangan antara perusahaan kapitalis dan campur tangan publik
4. Isu teknikal tentang efisiensi untuk terlibat dengan pertanyaan basic moral tentang keadilan, kejujuran, dan masyarakat yang baik.
Ekonomi Politik dalam Prakteknya : 3 Tugas Inti
3 area analisis yang mengilustrasikan prioritas ekonomi politik tentang komunikasi :
1. Fokus dengan produksi budaya yang bagus dimana ekonomi politik mengaitkan hal yang penting dalam Presumtion dari keterbatasan (tetapi tidak ditentukan secara sempurna) yang berimpact dari produksi budaya pada jarak konsumsi budaya.
2. Menguji teks ekonomi politik untuk mengilustrasikannya dalam representasi dalam produk media yang berhubungan dengan relasi material dari produk dan konsumsi mereka.
3. Menilai konsumsi ekonomi politik budaya untuk mengilustrasikan hubungan anatara material dan ketidaksamaan budaya yang secara mencemaskan, ekonomi politik fokus terhadap address.
Pemaknaan Produksi sebagai Latihan Kekuasaan
Pertanyaan yang terletak pada ekonomi politik tentang komunikasi adalah untuk mengilustrasikan bagaimana perubahan dalam menampilkan kekuatan yang mengontrol produksi budaya dan distribusi yang terbatas atau ruang publik yang terbatas. Dalam prakteknya, perhatian ini diarahkan untuk 2 isu kunci :
1. Pola pemegang saham tentang institusi dan konsekuensi dari pola ini untuk mengontrol aktivitas mereka.
2. Hubungan yang alami antara regulasi pemerintah dan institusi komunikasi.
Ekonomi Politik dan Analisis Tekstual
Penelitian dalam cultural studies fokus menganalisa tentang teks media dan rancangan aturan mereka dalam mempertahankan sistem yang dominan. Cultural Studies secara khusus menarik mekanisme pekerjaan ini kedalam teks media atau penyebrangan jarak teks. Dan kritikal ekonomi fokus untuk menjelaskan bagaimana dinamika struktur produksi ekonomi tentang percakapan publik yang mempromosikan bentuk budaya ke yang lain. Perspektif ini umumnya dengan empasis untuk menentukkan aturan media tentang bentuk budaya yang mempunyai 2 keuntungan utama :
1. Mengizinkan kita untuk sedikit detail tentang koreksi antara finansial & orgnisasi, produksi budaya & perubahan publik dilapangan dan representasi non redusible bahwa respek memerlukan untuk analisis organisasi tekstual yang full.
2. Menekankan fakta bahwa teks media sangat berubah dalam tingkat penyimpangan dari keterbukaan pokok pembicaraan.
Konsumsi Sovereignty or Struggle?
Kritikal ekonomi politik tidak hanya material dengan penghalang tersebut untuk mengkonsumsi budaya. Dengan demikian, hal itu juga menarik kedalam akses regulasi sosial untuk berkompeten dibudaya yang mengintepretasikan dan menggunakan material media khususnya. Salah satu emphirikal dalam cultural studies menjalankan dari proses pembelajaran tentang subkultural untuk meneliti perbedaan membaca tentang teks dari televisi, hal itu fokus dengan bagaimana sosial menentukkan akses informasi budaya dan sumber-sumber simbolik untuk mempertahankan perbedaan tentang interpretasi dan ekpresi (Morley 1943) . Penekanan ini untuk pengalaman sosial sebagai sumber budaya yang penting. Praktek konsumsi secara jelas tidak memanipulasi secara sempurna dari industri budaya yang strategis tetapi mereka secara jelas, secara tidak sempurna, mereka tidak bebas. Kita memerlukan hal itu untuk melihat komunitas budaya sebagai tempat Struggle yang terus menerus digunakan dan dimaknai antara produser dan audience serta antara perbedaan kelompok konsumen. Diwaktu yang sama kita memerlukan hal itu untuk menyelidiki terhadap link yang lain antara orang-orang dalam sistem produktif dan aktivitas komunikatif mereka.
Tanggapan :
Orang bergantung pada besarnya ukuran pada suatu industri budaya untuk gambar, simbol, dan perbendaharaan kata yang menginterpretasikan dan respon terhadap lingkungan sosial mereka. Hal ini sangat penting karena itu, kita memahami industri ini dalam sebuah konfrehensif dan secara teoritikal sesuai dengan analisis tentang komunikasi dan penelitian budaya. Mereka (Peter Golding & Graham Murdock) menjelaskan bahwa kritikal ekonomi politik memberikan sebuah pendekatan yang mempertahankan analisis dan melakukannya terhadap pendahuluan asal usul, karakter, dan aplikasi terhadap pendekatan tersebut. Dan sisanya akan dilakukan secara teoritikal dan secara emphiris, meskipun demikian, sebelum mereka bisa mengklaim untuk membangun atau menciptakan secara penuh sebuah kritik ekonomi politik tentang komunikasi.
Dikutip dari James curran & Michael Gurevitch. Mass Media and Society. Hlm :30
Peter Golding & Graham Murdock
Setiap orang dari orang-orang politik ke akademik setuju bahwa sistem komunikasi publik adalah bagian dari industri budaya. Popularitas dari point tag ini untuk menumbuhkan kesadaran bahwa organisasi ini sama dan berbeda dari industri yang lain. Disatu sisi mereka mempunyai jarak dengan produksi area yang lain dan secara meningkat mengintegrasikan kedalam struktur industri yang umum. Disisi lain hal itu sama dengan manufaktur mereka yang bagus seperti surat kabar, periklanan, televisi dan film. Hal itu berperan pada aturan yang sangat penting dalam mengorganisasikan gambar dan pidato melalui orang-orang yang membuat kesadaran terhadap dunia.
Kritik Ekonomi Politik tentang Komunikasi Strawmen dan Stereotypes
Perspektif kritikal mengasumsikan sebuah konsep realitas tentang fenomena yang dipelajari. Untuk alasan kritikal ini mencoba untuk mengetahui kendala nyata yang membentuk kehidupan dan kesempatan pada aktor-aktor dalam dunia nyata. Teori kritikal ini juga sangat materialis, dalam hal ini fokus pada interaksi orang-orangnya dengan lingkungan materil mereka.
Apa itu Kritikal Ekonomi Politik ?
Kritikal ekonomi politik berbeda dari mainstream ekonomi dalam respek 4 hal yang utama :
1. Holistik
2. Historikal
3. Fokus dengan keseimbangan antara perusahaan kapitalis dan campur tangan publik
4. Isu teknikal tentang efisiensi untuk terlibat dengan pertanyaan basic moral tentang keadilan, kejujuran, dan masyarakat yang baik.
Ekonomi Politik dalam Prakteknya : 3 Tugas Inti
3 area analisis yang mengilustrasikan prioritas ekonomi politik tentang komunikasi :
1. Fokus dengan produksi budaya yang bagus dimana ekonomi politik mengaitkan hal yang penting dalam Presumtion dari keterbatasan (tetapi tidak ditentukan secara sempurna) yang berimpact dari produksi budaya pada jarak konsumsi budaya.
2. Menguji teks ekonomi politik untuk mengilustrasikannya dalam representasi dalam produk media yang berhubungan dengan relasi material dari produk dan konsumsi mereka.
3. Menilai konsumsi ekonomi politik budaya untuk mengilustrasikan hubungan anatara material dan ketidaksamaan budaya yang secara mencemaskan, ekonomi politik fokus terhadap address.
Pemaknaan Produksi sebagai Latihan Kekuasaan
Pertanyaan yang terletak pada ekonomi politik tentang komunikasi adalah untuk mengilustrasikan bagaimana perubahan dalam menampilkan kekuatan yang mengontrol produksi budaya dan distribusi yang terbatas atau ruang publik yang terbatas. Dalam prakteknya, perhatian ini diarahkan untuk 2 isu kunci :
1. Pola pemegang saham tentang institusi dan konsekuensi dari pola ini untuk mengontrol aktivitas mereka.
2. Hubungan yang alami antara regulasi pemerintah dan institusi komunikasi.
Ekonomi Politik dan Analisis Tekstual
Penelitian dalam cultural studies fokus menganalisa tentang teks media dan rancangan aturan mereka dalam mempertahankan sistem yang dominan. Cultural Studies secara khusus menarik mekanisme pekerjaan ini kedalam teks media atau penyebrangan jarak teks. Dan kritikal ekonomi fokus untuk menjelaskan bagaimana dinamika struktur produksi ekonomi tentang percakapan publik yang mempromosikan bentuk budaya ke yang lain. Perspektif ini umumnya dengan empasis untuk menentukkan aturan media tentang bentuk budaya yang mempunyai 2 keuntungan utama :
1. Mengizinkan kita untuk sedikit detail tentang koreksi antara finansial & orgnisasi, produksi budaya & perubahan publik dilapangan dan representasi non redusible bahwa respek memerlukan untuk analisis organisasi tekstual yang full.
2. Menekankan fakta bahwa teks media sangat berubah dalam tingkat penyimpangan dari keterbukaan pokok pembicaraan.
Konsumsi Sovereignty or Struggle?
Kritikal ekonomi politik tidak hanya material dengan penghalang tersebut untuk mengkonsumsi budaya. Dengan demikian, hal itu juga menarik kedalam akses regulasi sosial untuk berkompeten dibudaya yang mengintepretasikan dan menggunakan material media khususnya. Salah satu emphirikal dalam cultural studies menjalankan dari proses pembelajaran tentang subkultural untuk meneliti perbedaan membaca tentang teks dari televisi, hal itu fokus dengan bagaimana sosial menentukkan akses informasi budaya dan sumber-sumber simbolik untuk mempertahankan perbedaan tentang interpretasi dan ekpresi (Morley 1943) . Penekanan ini untuk pengalaman sosial sebagai sumber budaya yang penting. Praktek konsumsi secara jelas tidak memanipulasi secara sempurna dari industri budaya yang strategis tetapi mereka secara jelas, secara tidak sempurna, mereka tidak bebas. Kita memerlukan hal itu untuk melihat komunitas budaya sebagai tempat Struggle yang terus menerus digunakan dan dimaknai antara produser dan audience serta antara perbedaan kelompok konsumen. Diwaktu yang sama kita memerlukan hal itu untuk menyelidiki terhadap link yang lain antara orang-orang dalam sistem produktif dan aktivitas komunikatif mereka.
Tanggapan :
Orang bergantung pada besarnya ukuran pada suatu industri budaya untuk gambar, simbol, dan perbendaharaan kata yang menginterpretasikan dan respon terhadap lingkungan sosial mereka. Hal ini sangat penting karena itu, kita memahami industri ini dalam sebuah konfrehensif dan secara teoritikal sesuai dengan analisis tentang komunikasi dan penelitian budaya. Mereka (Peter Golding & Graham Murdock) menjelaskan bahwa kritikal ekonomi politik memberikan sebuah pendekatan yang mempertahankan analisis dan melakukannya terhadap pendahuluan asal usul, karakter, dan aplikasi terhadap pendekatan tersebut. Dan sisanya akan dilakukan secara teoritikal dan secara emphiris, meskipun demikian, sebelum mereka bisa mengklaim untuk membangun atau menciptakan secara penuh sebuah kritik ekonomi politik tentang komunikasi.
Dikutip dari James curran & Michael Gurevitch. Mass Media and Society. Hlm :30
MEDIA LITERACY Meaning Matching and Meaning Construction
MEDIA LITERACY
Meaning Matching and Meaning Construction
Dian Febriani
Pembedaan antara meaning matching (Makna Pencocokkan) dan meaning construction (Makna Konstruksi) merupakan salah satu utama dari literasi media. Dengan meaning matching, artinya diasumsikan berada di luar orang dalam otoritas, seperti guru, pakar, sebuah kamus, buku pelajaran, atau sejenisnya. Tugas untuk orang tersebut untuk menemukan makna dan memoriza mereka. Orangtua dan lembaga pendidikan bertanggung jawab, terutama untuk perumahan otoritatif informasi dan berbagi dengan generasi berikutnya. Media juga merupakan sumber utama informasi, dan bagi banyak orang, media telah mencapai status dari sumber otoritatif, sehingga orang-orang menerima makna yang disajikan di sana.
Meaning matching (Makna Pencocokkan) pada dasarnya adalah tugas yang dapat diselesaikan dengan baik secara otomatis begitu kita telah memperoleh beberapa kompetensi dasar, seperti membaca. Meaning construction (Makana Kontruksi), sebaliknya, adalah tugas yang jauh lebih menantang. Meaning construction (Makana Kontruksi) adalah proses di mana kita harus melakukan sesuatu untuk pesan yang kami saring dan menciptakan makna bagi diri kita sendiri. Hal-hal yang kita lakukan untuk pesan memerlukan keterampilan analisis dan evaluasi untuk memeriksa pesan secara sadar. Kemudian, ketika informasi yang ditayangkan, kita harus menggunakan keahlian lain seperti induksi, deduksi, pengelompokan, dan sintesis untuk memasukkan informasi baru dengan struktur pengetahuan kita untuk membangun makna kita.
Banyak makna bisa dibangun dari pesan media apapun, lebih jauh lagi, ada banyak cara tentang membangun makna. Dengan demikian, kita tidak bisa belajar satu set aturan untuk menyelesaikan tugas ini melainkan kita harus dipandu oleh tujuan informasi kita sendiri, dan kita harus menggunakan keterampilan yang berkembang dengan baik untuk secara kreatif membangun jalan untuk mencapai tujuan kita.
Kedua proses meaning matching (Makna Pencocokkan) dan meaning construction (Makna Konstruksi) tidak terpisah, mereka saling terkait. Untuk membangun makna, pertama-tama kita harus mengenali simbol-simbol dan memahami pengertian di mana simbol-simbol yang digunakan dalam pesan. Dengan demikian, proses the meaning matching lebih mendasar karena produk dari makna-proses pencocokan lalu diimpor ke makna-proses konstruksi.
Meaning Matching and Meaning Construction
Dian Febriani
Pembedaan antara meaning matching (Makna Pencocokkan) dan meaning construction (Makna Konstruksi) merupakan salah satu utama dari literasi media. Dengan meaning matching, artinya diasumsikan berada di luar orang dalam otoritas, seperti guru, pakar, sebuah kamus, buku pelajaran, atau sejenisnya. Tugas untuk orang tersebut untuk menemukan makna dan memoriza mereka. Orangtua dan lembaga pendidikan bertanggung jawab, terutama untuk perumahan otoritatif informasi dan berbagi dengan generasi berikutnya. Media juga merupakan sumber utama informasi, dan bagi banyak orang, media telah mencapai status dari sumber otoritatif, sehingga orang-orang menerima makna yang disajikan di sana.
Meaning matching (Makna Pencocokkan) pada dasarnya adalah tugas yang dapat diselesaikan dengan baik secara otomatis begitu kita telah memperoleh beberapa kompetensi dasar, seperti membaca. Meaning construction (Makana Kontruksi), sebaliknya, adalah tugas yang jauh lebih menantang. Meaning construction (Makana Kontruksi) adalah proses di mana kita harus melakukan sesuatu untuk pesan yang kami saring dan menciptakan makna bagi diri kita sendiri. Hal-hal yang kita lakukan untuk pesan memerlukan keterampilan analisis dan evaluasi untuk memeriksa pesan secara sadar. Kemudian, ketika informasi yang ditayangkan, kita harus menggunakan keahlian lain seperti induksi, deduksi, pengelompokan, dan sintesis untuk memasukkan informasi baru dengan struktur pengetahuan kita untuk membangun makna kita.
Banyak makna bisa dibangun dari pesan media apapun, lebih jauh lagi, ada banyak cara tentang membangun makna. Dengan demikian, kita tidak bisa belajar satu set aturan untuk menyelesaikan tugas ini melainkan kita harus dipandu oleh tujuan informasi kita sendiri, dan kita harus menggunakan keterampilan yang berkembang dengan baik untuk secara kreatif membangun jalan untuk mencapai tujuan kita.
Kedua proses meaning matching (Makna Pencocokkan) dan meaning construction (Makna Konstruksi) tidak terpisah, mereka saling terkait. Untuk membangun makna, pertama-tama kita harus mengenali simbol-simbol dan memahami pengertian di mana simbol-simbol yang digunakan dalam pesan. Dengan demikian, proses the meaning matching lebih mendasar karena produk dari makna-proses pencocokan lalu diimpor ke makna-proses konstruksi.
Laporan Pengamatan Perkembangan Anak Usia 2 – 5 Tahun dan Pemahamannya Terhadap Tayangan TV
Laporan Pengamatan Perkembangan Anak Usia 2 – 5 Tahun dan Pemahamannya Terhadap Tayangan TV
Deskripsi Si Subyek Pengamatan :
Subyek pengamatan bernama Captain Fauzan, yang masih berusia 4,5 tahun. Captain adalah anak ke-2 dari dua bersaudara. Ayah subyek ini bekerja pada salah satu perusahaan di Jakarta, dan ibunya menjadi ibu rumah tangga. Ayahnya bekerja sebagai koordinator acara event pada perusahaan Unilever. Subyek tidak mempunyai waktu beraktivitas untuk sekolah dikarenakan belum bersekolah. Sehingga waktu luang si subyek sangat banyak atau dapat seharian penuh. Tetapi pada siang hari, jika captain berada dirumah biasanya captain menyempatkan waktu untuk tidur siang. Namun jika dia tidak berada dirumah atau bermain dirumah neneknya yang tidak jauh beberapa meter dari rumahnya, maka Captain tidak tidur dikarenakan ada beberapa temannya yang berada disekitar rumah neneknya tersebut. Sehingga dia bermain dengan mereka. Selain itu kegiatan Captain dirumah, juga bermain games di komputer atau games di PS.3, memutar DVD (Michel Jakcson, Upin-Ipin, Ultramen dll) terkait dengan DVD Michel Jakcson, dikarenakan ayah Captain waktu mudanya sangat menyukai atau penggemar Michel Jakcson sehingga terimplikasi dengan membeli DVD tersebut, serta ada juga menonton program televisi yang dia sukai seperti Naruto di Global TV, Film serial di Indosiar, legenda-legenda di TPI (contohnya cerita Timun Emas), tetapi lebih keseringan memutar DVD yaitu dengan frekuensi Captain memutar DVD itu setiap hari, dan seharinya sebanyak 3 kali. Captain adalah anak yang hyperaktif, dia sangat lincah dalam bergerak (kesana-kemari). Menurut Ibunya, Captain sangat jarang menonton televisi karena ayah captain sering membelikan DVD untuknya, seperti hal yang tadi dijelaskan tentang DVD Michel Jackson, Upin-Ipin, Ultramen dll. Waktu menonton Captain pada program televisi tersebut yaitu pada jam-jam program itu ditayangkan. Menurut keterangan ibunya, Captain tidak mendapatkan monitoring khusus, biasa-biasa saja tidak ada pengontrolan apa-apa.
Penerapan Karakteristik Teoeritis.
Pengaruh Media Terhadap.
o Perilaku/Sikap si subyek :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada perilaku Captain yaitu suka sekali dengan yang namanya perkelaian atau sebutan bagi Captain adalah berantem-beranteman, dan juga menirukan adegan seperti Naruto saat berkelahi melawan musuhnya atau Super hero Ultramen saat berubah menjadi Ultramen serta ucapan/bahasa Upin-Ipin seperti ucapan Asalamualikum saat masuk kerumah. Atau Captain juga bisa menirukan tarian michel Jakcson karena memutar DVD Michel Jackson tersebut.
o Emosi si subyek :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada emosi Captain yaitu emosi Captain menjadi cepat marah bila ada yang salah atau yang kurang enak dihatinya.
o Gaya hidup si subyek :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada gaya hidup Captain yaitu dengan membeli baju dan sandal Upin-Ipin, Spiderman dll.
o Makanan :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada makanan Captain yaitu pada iklan makanan yang menayangkan iklan tersebut dengan menyertai mainan seperti iklan hoka-hoka bento ada mobil-mobilan atau doraemon, serta AW yang menyajikan sama dengan hoka-hoka bento.
o Mainan :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada mainan Captain yaitu permainan Upi-Ipin yang terbuat dari bambu yang sekarang ini telah dijual diwarung-warung terdekat.
Peran Orang Tua Terhadap Perkembangan Si Anak.
Setelah mewawancarai Ibu Captain tentang peran orang tua terhadap perkembangan Captain mengenai perkembangan dan pemahamannya terhadap tayangan/program televisi adalah bahwa tidak ada peran orang tua captain mengenai perkembangan dan pemahaman Captain terhadap tayangan/program televisi. Dikarenakan ketidak tahuan akan bahayanya tayangan tersebut terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pemahaman anak. Dan Beliau juga menjelaskan bahwa selain ketidak tahuan tersebut, Si Anaknya pun menyukai hal tersebut, sehingga menurut beliau itu adalah hal yang wajar.
Selain itu juga Ibu Captain menjelaskan bahwa, seringkali Captain merengek untuk minta dibelikan produk-produk yang diiklankan di TV, tapi tidak sampai dibelikan (Keseringan) tergantung dengan isi dompet yang ada, karena hal itu ditanggapi Ibu Captain dengan menjanjikannya saja, tanpa melakukan aksi langsung. Atau juga dengan mengalihkan pembicaraan yang lucu-lucu dengan membuat Capatain tertawa.
Kesimpulan/Catatan Penting/Rekomendasi
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa tayangan televisi, DVD, Iklan, games ada banyak pengaruhnya terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pemahamannya mengenai terpaan tayangan televisi dll, yang berpengaruh terhadap perilaku, emosi, gaya hidup, makanan dan mainan si subyek. Akan tetapi dari dampak pengaruh tersebut yang terimplikasi pada perilaku, emosi, gaya hidup, makanan dan mainan si subyek, peran orang tua terhadap perkembangan si subyek tentang terpaan tayangan ini tidak ada sama sekali. Malah melihat hal ini suatu hal yang wajar yang dikarenakan si subyek menyukai hal itu serta ketidak tahuan orang tua akan bahayanya terpaan tayangan tersebut. Sehingga berpengaruh pada behavior si subjek sehari-hari yang disebabkan karena teridentifikasi dari tayangan yang ditontong.
CatatanPenting/Rekomendasi
Catatan penting yang dapat saya rekomendasi untuk kegiatan menonton Captain demi pertumbuhan, perkembangan yang baik dan pemahamannya terhadap tayangan baik televisi, DVD, maupun yang lainnya adalah dengan adanya kontrol dari peran orang tuanya terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pemahaman anak mengenai tayangan televisi, DVD, dan yang lainnya. Yaitu dengan melakukan hal-hal yang antara lain adalah :
1. Frekuensi menonton atau memutar DVD untuk si subyek sebaiknya, dikurangi atau diatur dengan baik dan pada waktu yang disesuaikan untuk si subyek.
2. Pada saat si subyek menonton televisi sebaiknya, dimonitoring dan dijelaskan jika ada tayangan atau adegan tayangan yang baik ataupun tayangan yang tidak baik. (Seperti ”tayangan ini tidak baik sebaiknya jangan diikuti karena akan menyebabkan hal yang seperti ini”)
3. Untuk mengantisipasi karena waktu yang tersisa masih ada atau tidak adanya kegiatan yang lain yang dikarenakan pembatasan frekuensi tersebut, maka disiapkan maianan yang bisa mengasa oatak atau pikiran bagi si subyek seperti permainan menghitung dari alat hitung china yaitu sempoa, atau permainan seperti bongkar pasang (puzzel).
4. Menyediakan bahan bacaan buku cerita anak-anak untuk si subyek, walaupun belum bisa membaca akan tetapi pada usia si subyek cenderung menyimpan gambaran cerita yang sama didalam memori mereka dan pemahaman dia akan menjadi lebih baik ketika isi disertai gambar-gambar menarik.
5. Karena kebiasaan si subyek sudah terbiasa dengan memutar DVD, maka alternatif yang baik agar kebisaannya pun tidak hilang sehingga emosi si subyek tidak akan meninggi atau marah bahkan menangis maka alternatif tersebut adalah dengan mengganti format tontonan konten DVD dengan format tontonan konten DVD yang bisa mengajarkan si subyek tentang kehidupan-kehidupan yang dapat lebih mendukungnya kedepan nanti yaitu seperti format tontonan konten DVD yang islami atau belajar membaca huruf hijaiyah, atau konten yang membahas tentang asas-asas kekeluargaan, pertemanan, hormat-menghormati, cara menggambar atau menulis huruf-huruf.
Dari rekomendasi tersebut, ada catatan penting karena dengan tidak adanya kontrol atau peran orang tua dalam perkembangan si Anak terhadap terpaan tayangan baik televisi, DVD maupun yang lainnya. Maka akan terimplikasi pada behavior yang buruk pada si anak, yang disebabkan karena bahayanya tayangan-tayangan televisi yang berbasis pada industri media sehingga diperlukannya lah kontrol, monitoring, atau peran orang tua dalam perkembangannya tersebut.
Deskripsi Si Subyek Pengamatan :
Subyek pengamatan bernama Captain Fauzan, yang masih berusia 4,5 tahun. Captain adalah anak ke-2 dari dua bersaudara. Ayah subyek ini bekerja pada salah satu perusahaan di Jakarta, dan ibunya menjadi ibu rumah tangga. Ayahnya bekerja sebagai koordinator acara event pada perusahaan Unilever. Subyek tidak mempunyai waktu beraktivitas untuk sekolah dikarenakan belum bersekolah. Sehingga waktu luang si subyek sangat banyak atau dapat seharian penuh. Tetapi pada siang hari, jika captain berada dirumah biasanya captain menyempatkan waktu untuk tidur siang. Namun jika dia tidak berada dirumah atau bermain dirumah neneknya yang tidak jauh beberapa meter dari rumahnya, maka Captain tidak tidur dikarenakan ada beberapa temannya yang berada disekitar rumah neneknya tersebut. Sehingga dia bermain dengan mereka. Selain itu kegiatan Captain dirumah, juga bermain games di komputer atau games di PS.3, memutar DVD (Michel Jakcson, Upin-Ipin, Ultramen dll) terkait dengan DVD Michel Jakcson, dikarenakan ayah Captain waktu mudanya sangat menyukai atau penggemar Michel Jakcson sehingga terimplikasi dengan membeli DVD tersebut, serta ada juga menonton program televisi yang dia sukai seperti Naruto di Global TV, Film serial di Indosiar, legenda-legenda di TPI (contohnya cerita Timun Emas), tetapi lebih keseringan memutar DVD yaitu dengan frekuensi Captain memutar DVD itu setiap hari, dan seharinya sebanyak 3 kali. Captain adalah anak yang hyperaktif, dia sangat lincah dalam bergerak (kesana-kemari). Menurut Ibunya, Captain sangat jarang menonton televisi karena ayah captain sering membelikan DVD untuknya, seperti hal yang tadi dijelaskan tentang DVD Michel Jackson, Upin-Ipin, Ultramen dll. Waktu menonton Captain pada program televisi tersebut yaitu pada jam-jam program itu ditayangkan. Menurut keterangan ibunya, Captain tidak mendapatkan monitoring khusus, biasa-biasa saja tidak ada pengontrolan apa-apa.
Penerapan Karakteristik Teoeritis.
Pengaruh Media Terhadap.
o Perilaku/Sikap si subyek :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada perilaku Captain yaitu suka sekali dengan yang namanya perkelaian atau sebutan bagi Captain adalah berantem-beranteman, dan juga menirukan adegan seperti Naruto saat berkelahi melawan musuhnya atau Super hero Ultramen saat berubah menjadi Ultramen serta ucapan/bahasa Upin-Ipin seperti ucapan Asalamualikum saat masuk kerumah. Atau Captain juga bisa menirukan tarian michel Jakcson karena memutar DVD Michel Jackson tersebut.
o Emosi si subyek :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada emosi Captain yaitu emosi Captain menjadi cepat marah bila ada yang salah atau yang kurang enak dihatinya.
o Gaya hidup si subyek :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada gaya hidup Captain yaitu dengan membeli baju dan sandal Upin-Ipin, Spiderman dll.
o Makanan :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada makanan Captain yaitu pada iklan makanan yang menayangkan iklan tersebut dengan menyertai mainan seperti iklan hoka-hoka bento ada mobil-mobilan atau doraemon, serta AW yang menyajikan sama dengan hoka-hoka bento.
o Mainan :
Pengaruh media baik yang televisi, DVD, maupun games terimplikasi pada mainan Captain yaitu permainan Upi-Ipin yang terbuat dari bambu yang sekarang ini telah dijual diwarung-warung terdekat.
Peran Orang Tua Terhadap Perkembangan Si Anak.
Setelah mewawancarai Ibu Captain tentang peran orang tua terhadap perkembangan Captain mengenai perkembangan dan pemahamannya terhadap tayangan/program televisi adalah bahwa tidak ada peran orang tua captain mengenai perkembangan dan pemahaman Captain terhadap tayangan/program televisi. Dikarenakan ketidak tahuan akan bahayanya tayangan tersebut terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pemahaman anak. Dan Beliau juga menjelaskan bahwa selain ketidak tahuan tersebut, Si Anaknya pun menyukai hal tersebut, sehingga menurut beliau itu adalah hal yang wajar.
Selain itu juga Ibu Captain menjelaskan bahwa, seringkali Captain merengek untuk minta dibelikan produk-produk yang diiklankan di TV, tapi tidak sampai dibelikan (Keseringan) tergantung dengan isi dompet yang ada, karena hal itu ditanggapi Ibu Captain dengan menjanjikannya saja, tanpa melakukan aksi langsung. Atau juga dengan mengalihkan pembicaraan yang lucu-lucu dengan membuat Capatain tertawa.
Kesimpulan/Catatan Penting/Rekomendasi
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa tayangan televisi, DVD, Iklan, games ada banyak pengaruhnya terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pemahamannya mengenai terpaan tayangan televisi dll, yang berpengaruh terhadap perilaku, emosi, gaya hidup, makanan dan mainan si subyek. Akan tetapi dari dampak pengaruh tersebut yang terimplikasi pada perilaku, emosi, gaya hidup, makanan dan mainan si subyek, peran orang tua terhadap perkembangan si subyek tentang terpaan tayangan ini tidak ada sama sekali. Malah melihat hal ini suatu hal yang wajar yang dikarenakan si subyek menyukai hal itu serta ketidak tahuan orang tua akan bahayanya terpaan tayangan tersebut. Sehingga berpengaruh pada behavior si subjek sehari-hari yang disebabkan karena teridentifikasi dari tayangan yang ditontong.
CatatanPenting/Rekomendasi
Catatan penting yang dapat saya rekomendasi untuk kegiatan menonton Captain demi pertumbuhan, perkembangan yang baik dan pemahamannya terhadap tayangan baik televisi, DVD, maupun yang lainnya adalah dengan adanya kontrol dari peran orang tuanya terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pemahaman anak mengenai tayangan televisi, DVD, dan yang lainnya. Yaitu dengan melakukan hal-hal yang antara lain adalah :
1. Frekuensi menonton atau memutar DVD untuk si subyek sebaiknya, dikurangi atau diatur dengan baik dan pada waktu yang disesuaikan untuk si subyek.
2. Pada saat si subyek menonton televisi sebaiknya, dimonitoring dan dijelaskan jika ada tayangan atau adegan tayangan yang baik ataupun tayangan yang tidak baik. (Seperti ”tayangan ini tidak baik sebaiknya jangan diikuti karena akan menyebabkan hal yang seperti ini”)
3. Untuk mengantisipasi karena waktu yang tersisa masih ada atau tidak adanya kegiatan yang lain yang dikarenakan pembatasan frekuensi tersebut, maka disiapkan maianan yang bisa mengasa oatak atau pikiran bagi si subyek seperti permainan menghitung dari alat hitung china yaitu sempoa, atau permainan seperti bongkar pasang (puzzel).
4. Menyediakan bahan bacaan buku cerita anak-anak untuk si subyek, walaupun belum bisa membaca akan tetapi pada usia si subyek cenderung menyimpan gambaran cerita yang sama didalam memori mereka dan pemahaman dia akan menjadi lebih baik ketika isi disertai gambar-gambar menarik.
5. Karena kebiasaan si subyek sudah terbiasa dengan memutar DVD, maka alternatif yang baik agar kebisaannya pun tidak hilang sehingga emosi si subyek tidak akan meninggi atau marah bahkan menangis maka alternatif tersebut adalah dengan mengganti format tontonan konten DVD dengan format tontonan konten DVD yang bisa mengajarkan si subyek tentang kehidupan-kehidupan yang dapat lebih mendukungnya kedepan nanti yaitu seperti format tontonan konten DVD yang islami atau belajar membaca huruf hijaiyah, atau konten yang membahas tentang asas-asas kekeluargaan, pertemanan, hormat-menghormati, cara menggambar atau menulis huruf-huruf.
Dari rekomendasi tersebut, ada catatan penting karena dengan tidak adanya kontrol atau peran orang tua dalam perkembangan si Anak terhadap terpaan tayangan baik televisi, DVD maupun yang lainnya. Maka akan terimplikasi pada behavior yang buruk pada si anak, yang disebabkan karena bahayanya tayangan-tayangan televisi yang berbasis pada industri media sehingga diperlukannya lah kontrol, monitoring, atau peran orang tua dalam perkembangannya tersebut.
Analisis pola komodifikasi dalam liputan media atas kasus Bank Century
Analisis pola komodifikasi
dalam liputan media atas kasus Bank Century
Dian Febriani/208000141
Definisi dan Jenis-jenis Komodifikasi dalam studi ekonomi politik media antara lain adalah :
Komodifikasi dapat diasumsikan proses transformasi barang dan jasa dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya di pasar. Karena nilai tukar berkaitan dengan pasar dan konsumen, maka proses komodifikasi pada dasarnya adalah mengubah barang/jasa agar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Pada proses transformasi dari nilai guna menjadi nilai tukar, dalam media massa selalu melibatkan para awak media, khalayak pembaca, pasar, dan negara apabila masing-masing di antaranya mempunyai kepentingan (Mosco, 1996). Nilai tambah produksi berita akan sangat ditentukan oleh kemampuan berita tersebut memenuhi kebutuhan sosial dan individual.
Menurut perbendaharaan kata dalam istilah Marxist komodifikasi adalah suatu bentuk transformasi dari hubungan, yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan, menjadi hubungan yang sifatnya komersil. (http://www.marxists.org/glossary/terms/c/o.htm). Dalam artian bahwa hubungan sosial ter-reduksi menjadi hubungan pertukaran. Komodifikasi (commodification), juga merupakan istilah yang hanya ada dalam konsep jual-beli di tahun 1977, namun mengekspresikan konsep fundamental atas penjelasan Karl Marx tentang bagaimana kapitalisme terbangun.
Komodifikasi adalah gejala kapitalisme. Yaitu upaya untuk memperluas pasar, meningkatkan keuntungan sebesar-besarnya dilakukan dengan membuat produk atau jasa yang disukai oleh konsumen. Barang dikemas dan dibentuk sedemikian rupa sehingga disukai oleh konsumen. Sedangkan ciri dari komodifikasi itu sendiri adalah adanya perubahan format yang menyesuaikan dengan keinginan konsumen. Konsumen atau khalayak menjadi tujuan utama, atau bahkan satu-satunya. Dengan menjangkau khalayak sebanyak-banyaknya diharapkan bisa mendatangkan keuntungan sebanyak-banyaknya.
Dan adapun Jenis-jenis komodifikasi dalam ekonomi politik media antara lain adalah :
1. Komodifikasi Isi (Content Commodity) Komodifikasi isi yang melibatkan transformasi pesan agar pesan lebih diterima oleh pasar (marketable). Misalnya, surat kabar, berita lebih memperhitungkan nilai berita agar bisa diterima oleh pasar.
2. Komodifikasi Khalayak (Audience Commodity) Ekonomi politik memperluas lebih lanjut analoginya dengan memeriksa bagaimana hubungan antara modal dan para penonton pada titik penerimaan yang dilakukan diatas perluasan peyiaran komersial.Komodifikasi khalayak terbagi menjadi 2 yaitu :
• Komodifikasi Intrinsik : Komodifikasi yang melekat secara langsung dari program atau acara yang dibuat oleh media. Upaya untuk mengetahui karakteristik khalayak, dan keinginan spesifik dari masing-masing khalayak. Komodifikasi ini membutuhkan prosedur dan ukuran untuk menentukkan secara akurat disemua tahapan produksi, pertukaran dan konsumsi.
• Komodifikasi Ekstensif : Proses komodifikasi yang terjadi dan mengalami perluasan melibatkan institusi pendidikan, pemerintah, budaya, telekomunikasi dsb. Komodifikasi ini memasukkan transformasi dari ruang umum menjadi kepemilikan privat seperti untuk mall dsb. Komodifikasi ini terutama diwujudkan lewat iklan-iklan komersial.
3. Komodifikasi Pekerja (Labour Commodity) Transformasi proses kerja dalam kapitalisme. Buruh merupakan kesatuan konsep dari pembuahan, atau kekuatan invasi, imagine dan pekerjaan desain dan pelaksanaan, atau kekuatan untuk melaksanakannya. Dalam proses komodifikasi, tindakan modal untuk memisahkan konsepsi dari eksekusi, keterampilan atau skill dari kemampuan untuk melaksanakannya.
Analisi pola Komodifikasi dalam liputan media atas kasus tersebut.
Persoalan kasus Bank Century yang diliput oleh media bahkan diangkat dalam kotak ajaib (televisi) merupakan salah sebuah bentuk bingkai komodifikasi yang mendominasi program acara televisi di negeri ini. Jika pemerintah tengah berupaya mencari penyelesaian terhadap pengusutan Bank Century yang dilakukan oleh Pansus Century, namun televisi menjadikan kasus tersebut melakukan proses transformasi barang dan jasa dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya dipasar. Kasus diatas, merupakan salah satu obyek para pemilik media untuk bisa menghasilkan keuntungan. Mulai dari perdebatan hingga siaran langsung rapat-rapat pengusutan Bank Century yang dilakukan oleh Pansus Century sebagai pemberitaan yang dilakukan oleh media untuk dijadikan komoditas segala kepentingan individu ataupun kepentingan pemilik media. Dari pemberitaan ini timbul berbagai macam hal yang mampu menarik perhatian masyarakat mulai dari icon yang konyol yang ditimbulkan oleh salah satu anggota DPR dari fraksi Demokrat yaitu Ruhut Sitompul, simpati terhadap Sri Mulyani bagi Ibu-ibu yang diperlihatkan oleh media lewat liputannya mengenai Sri Mulyani yang kerap sedang bertasbih/berdzikir waktu dimintai keterangan oleh Pansus Century di gedung DPR, hingga keuntungan yang lebih bersifat materi dan popularitas. Dari pemberitaan media yang timbul berbagai macam tersebut, sebenarnya pemberitaan tersebut tidak dperlukan oleh publik terkait akan penuntasan kasus Bank Century itu. Tetapi karena media mengkomodifikasikan kasus/masalah Bank Century dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya dipasar, guna untuk mendapatkan keuntungan terhadap media tersebut.
dalam liputan media atas kasus Bank Century
Dian Febriani/208000141
Definisi dan Jenis-jenis Komodifikasi dalam studi ekonomi politik media antara lain adalah :
Komodifikasi dapat diasumsikan proses transformasi barang dan jasa dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya di pasar. Karena nilai tukar berkaitan dengan pasar dan konsumen, maka proses komodifikasi pada dasarnya adalah mengubah barang/jasa agar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Pada proses transformasi dari nilai guna menjadi nilai tukar, dalam media massa selalu melibatkan para awak media, khalayak pembaca, pasar, dan negara apabila masing-masing di antaranya mempunyai kepentingan (Mosco, 1996). Nilai tambah produksi berita akan sangat ditentukan oleh kemampuan berita tersebut memenuhi kebutuhan sosial dan individual.
Menurut perbendaharaan kata dalam istilah Marxist komodifikasi adalah suatu bentuk transformasi dari hubungan, yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan, menjadi hubungan yang sifatnya komersil. (http://www.marxists.org/glossary/terms/c/o.htm). Dalam artian bahwa hubungan sosial ter-reduksi menjadi hubungan pertukaran. Komodifikasi (commodification), juga merupakan istilah yang hanya ada dalam konsep jual-beli di tahun 1977, namun mengekspresikan konsep fundamental atas penjelasan Karl Marx tentang bagaimana kapitalisme terbangun.
Komodifikasi adalah gejala kapitalisme. Yaitu upaya untuk memperluas pasar, meningkatkan keuntungan sebesar-besarnya dilakukan dengan membuat produk atau jasa yang disukai oleh konsumen. Barang dikemas dan dibentuk sedemikian rupa sehingga disukai oleh konsumen. Sedangkan ciri dari komodifikasi itu sendiri adalah adanya perubahan format yang menyesuaikan dengan keinginan konsumen. Konsumen atau khalayak menjadi tujuan utama, atau bahkan satu-satunya. Dengan menjangkau khalayak sebanyak-banyaknya diharapkan bisa mendatangkan keuntungan sebanyak-banyaknya.
Dan adapun Jenis-jenis komodifikasi dalam ekonomi politik media antara lain adalah :
1. Komodifikasi Isi (Content Commodity) Komodifikasi isi yang melibatkan transformasi pesan agar pesan lebih diterima oleh pasar (marketable). Misalnya, surat kabar, berita lebih memperhitungkan nilai berita agar bisa diterima oleh pasar.
2. Komodifikasi Khalayak (Audience Commodity) Ekonomi politik memperluas lebih lanjut analoginya dengan memeriksa bagaimana hubungan antara modal dan para penonton pada titik penerimaan yang dilakukan diatas perluasan peyiaran komersial.Komodifikasi khalayak terbagi menjadi 2 yaitu :
• Komodifikasi Intrinsik : Komodifikasi yang melekat secara langsung dari program atau acara yang dibuat oleh media. Upaya untuk mengetahui karakteristik khalayak, dan keinginan spesifik dari masing-masing khalayak. Komodifikasi ini membutuhkan prosedur dan ukuran untuk menentukkan secara akurat disemua tahapan produksi, pertukaran dan konsumsi.
• Komodifikasi Ekstensif : Proses komodifikasi yang terjadi dan mengalami perluasan melibatkan institusi pendidikan, pemerintah, budaya, telekomunikasi dsb. Komodifikasi ini memasukkan transformasi dari ruang umum menjadi kepemilikan privat seperti untuk mall dsb. Komodifikasi ini terutama diwujudkan lewat iklan-iklan komersial.
3. Komodifikasi Pekerja (Labour Commodity) Transformasi proses kerja dalam kapitalisme. Buruh merupakan kesatuan konsep dari pembuahan, atau kekuatan invasi, imagine dan pekerjaan desain dan pelaksanaan, atau kekuatan untuk melaksanakannya. Dalam proses komodifikasi, tindakan modal untuk memisahkan konsepsi dari eksekusi, keterampilan atau skill dari kemampuan untuk melaksanakannya.
Analisi pola Komodifikasi dalam liputan media atas kasus tersebut.
Persoalan kasus Bank Century yang diliput oleh media bahkan diangkat dalam kotak ajaib (televisi) merupakan salah sebuah bentuk bingkai komodifikasi yang mendominasi program acara televisi di negeri ini. Jika pemerintah tengah berupaya mencari penyelesaian terhadap pengusutan Bank Century yang dilakukan oleh Pansus Century, namun televisi menjadikan kasus tersebut melakukan proses transformasi barang dan jasa dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya dipasar. Kasus diatas, merupakan salah satu obyek para pemilik media untuk bisa menghasilkan keuntungan. Mulai dari perdebatan hingga siaran langsung rapat-rapat pengusutan Bank Century yang dilakukan oleh Pansus Century sebagai pemberitaan yang dilakukan oleh media untuk dijadikan komoditas segala kepentingan individu ataupun kepentingan pemilik media. Dari pemberitaan ini timbul berbagai macam hal yang mampu menarik perhatian masyarakat mulai dari icon yang konyol yang ditimbulkan oleh salah satu anggota DPR dari fraksi Demokrat yaitu Ruhut Sitompul, simpati terhadap Sri Mulyani bagi Ibu-ibu yang diperlihatkan oleh media lewat liputannya mengenai Sri Mulyani yang kerap sedang bertasbih/berdzikir waktu dimintai keterangan oleh Pansus Century di gedung DPR, hingga keuntungan yang lebih bersifat materi dan popularitas. Dari pemberitaan media yang timbul berbagai macam tersebut, sebenarnya pemberitaan tersebut tidak dperlukan oleh publik terkait akan penuntasan kasus Bank Century itu. Tetapi karena media mengkomodifikasikan kasus/masalah Bank Century dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya dipasar, guna untuk mendapatkan keuntungan terhadap media tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)